
Alkisah, konon secara turun temurun kerbau bule tersebut terus bertindak sebagai penjaga pusaka Kyai Slamet hingga masyarakat luas menyebut kerbau itu sebagai Kerbau Kyai Slamet. Hingga kini telah beranak pinak dan tetap dihormati serta disebut sebagai kerbau bule Kyai Slamet.
Kirab seperti ini sudah diselenggarakan sejak tahun 1633 M, ketika kerajaan Mataram dipimpin oleh Sultan Agung. Namun entah apakah kirab kerbau tempo dahulu juga diiringi dengan kepercayaan-kepercayaan klenik tersebut atau tidak.
Acara ini sangat melekat dihati rakyat, sehingga manakala diselenggarakan kirab seperti ini akan dihadiri oleh ribuan orang. Mereka tidak hanya berasal dari kota Solo, namun juga dari luar Solo. Ada yang hanya sekedar melihat-lihat, namun juga ada yang punya motivasi magic tersendiri.
Jumlah wisatawan atau pengunjung kirab pada tahun lalu diperkirakan mencapai 9.500 orang. Sedangkan tahun 2008, jumlah penonton ada sekitar 8.250 orang dan tahun 2007 lebih dari 7000 orang. Pada tahun ini, di gelar di hari Selasa (7/12) malam. (Solopos)
Salah satu kleniknya ialah, bahwa sebagian masyarakat percaya jika kotoran (letong) kerbau tersebut mampu memberikan sumber rizki. Tidak aneh, ketika saat kirab kemudian kerbaunya mengeluarkan kotoran, warga pun berebut ingin mendapatkan letong itu. Hal yang sama juga terjadi saat air bekas jamasan pusaka keraton diperebutkan warga karena juga dianggap bisa mendatangkan berkah.